Friday, June 30, 2017

Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past] - Chapter 3 part 4

English here
I translated from Eng ver bcus my Japanese is not A++ lol
translator: christa
tolong sertakan link ke laman ini jika ingin repost. thankyou.

Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past]
Bab 3 - A Den of Angel Wings (Sarang Sayap Malaikat)
bagian 4



Sambil mengeluarkan ingus ke sarung tangan dan menghapus air matanya sampai lengan parkanya basah kuyup, Yuki pergi ke tempat Inaho.

Hal terakhir yang diinginkannya adalah memeluk Inaho sambil berlinang air mata. Dia tidak mau kenangan pertama Inaho di pantai adalah air mata kakaknya.


"Lihat, Yuki-nee."

Adiknya secepat kilat memperlihatkan hasil panen hari itu: batu sebesar tangannya yang berwarna abu-abu, yang penuh lubang sebesar jari-jarinya.

"Apa ini?"

"Ini sarang kerang. Namanya sayap malaikat."

"Sayap apa?"

"Memang mereka dinamakan sayap malaikat, tapi sebenarnya kerang, buka burung. Aku melihatnya di buku kalau mereka kadang-kadang jatuh ke pasir seperti ini. Saat aku lihat-lihat tadi, ada banyak di sana."

"Kelihatannya seperti fosil, ya..."

"Mungkin kelihatannya seperti fosil, tapi bukan. Memang mencarinya susah, tapi menurutku itu tidak begitu berharga seperti fosil."

"Begitukah..."


'Tidak begitu berharga', kata-kata itu sedikit menusuk Yuki.

Apa-apaan ini, kalau adiknya berpikir piknik kali ini tidak sebegitu berharganya, seharusnya mereka tidak usah pergi saja. Tentu saja, Yuki tahu Inaho tidak bermaksud begitu.

"Ada apa, Yuki-nee?" Adik kecilnya menatapnya karena tiba-tiba dia terdiam.

"Tidak, tidak apa-apa..." Yuki membalik badannya, menghindari pandangan dari mata kecoklatan itu, lalu berkata dengan nada yang sedikit bersemangat, "Nao-kun, ayo kita makan siang."


Saat mereka kembali ke tikar mereka, pemuda dengan gips sudah tidak ada. Di tempat pemuda tadi duduk ada 2 kaleng jus yang terlihat seperti sebuah permintaan maaf.

"Apa kau yang beli ini, Yuki-nee?"

"Bukan. Tapi tidak apa, minum saja."

"Benarkah? Ini bukan orang iseng?"

"Tidak apa-apa."

"Ah, mesin penjual otomatis di depan stasiun menjual ini."

"Kau ingat?"

"Iya. Ini enak. Jika terjadi apa-apa, kamera pengawas di sekitar mesinnya pasti merekam wajah pelakunya."

Yang tadi membeli sup jagung adalah Yuki. 'Apa Inaho punya waktu untuk lihat-lihat ke sekitar mesin penjual otomatisnya?' dia bertanya-tanya. Tapi yah, ini Inaho yang sedang dia bicarakan.

"Tapi tetap saja, melon soda itu tidak nyambung sama nasi." Saat dia membayangkan pemuda payah itu membelikan melon soda untuk mereka berdua, dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia berusaha keras agak tidak terlalu terlihat oleh Inaho yang tidak mengerti apa-apa agar dia tidak berpikir kalau kakaknya itu aneh. "Bagaimana kalau kita minum di rumah saja?"

"Oke."

Akhirnya mereka masukkan melon sodanya ke dalam tas punggung sambil mengeluarkan bekal makan siang yang telah Yuki siapkan sebelumnya.


Dia sudah tahu hasilnya, itu usaha yang sia-sia.

"Nasi kepalnya agak keras." Yuki mengeluh sambil menggiti gandum yang menempel di jari-jarinya.

"Mm, mungkin airnya kurang."

Saat dia membuka bungkus tempat makannya, dia punya perasaan tidak enak.

Tidak ada bau-bau yang membuat lapar seperti yang dibuat ibunya dulu. Mungkin karena lauknya cuma omelet, tapi.. akan senang sekali jika paling tidak dia bisa membuat nasi kepal yang enak.

Sudah keras, agak dingin pula. Kalau bukan karena teh yang diletakkan di sebelahnya, mungkin sekarang jadi susah sekali dikunyah.

"Kebanyakan garam..." Yuki bergumam setelah makan segigit.

"Tidak begitu terasa kok kalau dimakan bareng dengan nasi kepalnya." Setelah Inaho makan telurnya, dia jejalkan nasi ke dalam mulutnya.

Yuki melihat adiknya yang makan karena mengkhawatirkannya. Entah kenapa dia terlihat sangat kasihan, hidungnya mengkerut saking asinnya padahal tidak ada buah plum yang asam di sana.

"Sia-sia saja... Rasanya tidak enak." Semakin Yuki tidak ingin menangis, semakin buram pandangannya dan semakin banyak air mata yang terkumpul di matanya. Kalau dia menyeka matanya, Inaho pasti sadar kalau dia menangis.

Sambil menunduk, dia berpura-pura makan.

"Tidak apa kok. Nanti garam dari bekalnya akan mengganti kadar garammu yang hilang karena menangis."

Yuki mendongkak kaget, "Duh Nao-kun bodoh. Kau seharusnya pura-pura tidak tahu..."

"Baiklah. Selanjutnya aku akan begitu."

"Bukan itu maksudku..."

Inaho mengambil tisu dari sakunya dan memberikannya ke Yuki. Dia dapat dari orang yang membagikannya secara gratis di depan stasiun.

Berusaha menghilangkan rasa malunya, Yuki mengambil tisu dan melegakan hatinya.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa memberimu apapun, Nao-kun. Padahal aku satu-satunya keluargamu..." Yuki bergumam sambil membereskan kotak bekal mereka, tidak melihat mata Inaho.

Pada akhirnya, Inaho yang menghabiskan bagian Yuki, dan tidak disisa sama sekali. "Tidak apa. Tidak apa kok Yuki-nee." Dia terus mengulanginya.

"Lain kali, aku akan membuatkanmu omelet, Yuki-nee." Inaho berkata.

"Huh...?"

"Kau suka sekali omelet."

Bagaimana dia bisa tahu? Dia tidak pernah cerita sekalipun tentang omeleh pada Inaho. "Nao-kun, bagaimana kau tahu?"

"Karena telur dadar di "Rumah" itu manis. Kadang, aku merasa kalau kau benar-benar ingin omelet, Yuki-nee."

"Kau bisa tahu? Hanya karena itu?"

"Habisnya," mata coklatnya menatap Yuki dengan lurus, "kau kan kakakku, Yuki-nee."

Yuki terdiam.

Mendengarkan kata-kata itu sudah lebih dari cukup.

"Begitu..."

'Begitu.. Aku begitu gelisah. Apa yang adikku pikirkan tentangku? Apa dia menganggapku sebagai kakaknya, selalu dan selamanya?'

"Yuki-nee, aku keluargamu."

"Iya..."

"Aku membaca cara buat omelet di internet. Cara yang paling mudah itu pakai mentsuyu."

"Mentsuyu? Seperti di mi kuah?"

"Iya. Itu dibuat dari kaldu dan kecap, jadi bisa dibuat bumbu juga."

"Mentsuyu, ya. Tidak pernah terpikirkan olehku."

"Kau bisa pakai mentsuyu untuk semua masakan yang digoreng, tidak cuma omelet. Jadi mudah sekali. Mungkin nanti aku bisa langsung coba buat."

"Nao-kun..."

"Sedikit-sedikit, saat aku sudah agak pintar masak, akan kubuatkan omelet sungguhan dan mi kuah."

"Baiklah... terima kasih. Nao-kun, terima kasih..."

No comments:

Post a Comment