Wednesday, June 28, 2017

Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past] - Chapter 2 part 3

English here
I translated from Eng ver bcus my Japanese is not A++ lol
translator: christa
tolong sertakan link ke laman ini jika ingin repost. thankyou.

Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past]
Bab 2 - Spring Picnic (Piknik Musim Semi)
bagian 3



Cahaya terang dan silau melahap kota dan menghancurkannya.

Yuki bisa merasakan kalau saat itu panas, tapi pada saat yang sama dia juga merasa kedinginan.

Dia tidak tahu seberapa besar bumi berguncang atau seberapa mengerikannya gemuruh-gemuruh itu. Hanya satu hal yang ada di pikirannya; bau busuk angin yang dipenuhi awan residu.

"Ibu...?"

Saat dia tergoyang kesana-kemari, ibunya sudah menghilang.

Yang terlihat justru tumpukan puing yang belum pernah dia lihat sebelumnya membentuk sebuah menara berbahaya di depannya.

'Ibu sudah terhisap. Ibu dihisap oleh menara puing ini.' Pikirnya.

"Ibu!!!"


Satu-satunya respon datang dari tepian puing, suara dari bayi yang tak berdaya.

Di suasana genting itu, si bayi tidak menangis maupun mengoceh. Dia hanya menggeliatkan tangan dan kakinya ke langit seperti bayi pada umumnya. 

"Inaho...!!"

Itu adik kecilnya, yang sampai beberapa detik yang lalu digendong ibunya. Dia memakai topi yang menutup telinganya, dan terbungkus selimut dengan gambar bebek yang Yuki pilihkan.

Yuki meraih adiknya secepat yang dia bisa dengan tangan kecilnya dan langsung berlari mengikuti para orang dewasa di tengah-tengah asap.

Dia berpura-pura tidak melihat cardigan berwarna oranye-lemonnya yang compang-camping.

Yuki tidak tahu kemana para orang dewasa itu akan pergi, tidak tahu pula kenapa dia mengejar mereka. Kalau mencari kata yang tepat, mungkin itu 'insting'.

Insting untuk berlari, untuk melindungi, untuk bertahan hidup. Yuki membiarkan kakinya membawa mereka kemanapun, hanya dengan mengikuti instingnya.


Akhirnya dia sampai di penampungan bawah tanah.

Saat hubungan diplomasi dengan Vers (manusia Mars) mulai memburuk, para Terran (manusia Bumi) tidak bersantai untuk mempersiapkan 'perang antar planet' yang pasti akan terjadi cepat atau lambat. Saat itulah banyak penampungan dibangun, entah di bawah gedung, di parkiran mall, sampai apartemen di gedung tinggi. Negara benar-benar menghabiskan semua uangnya untuk pembangunan ini.

Pemerintah berpura-pura bahwa penampungan itu dibuat untuk menampung korban jika terjadi bencana langka yang tiba-tiba. Namun tujuan sebenarnya adalah persiapan untuk perang yang akan datang.

Masyarakat juga sudah menyadarinya. Tidak ada cara untuk menghindari perang ini.


Samar-samar, Yuki bisa mendengar sesuatu yang hancur di luar sana, dan pada saat yang sama akan mendatangkan perasaan tidak enak karena getaran yang ditimbulkannya.

Yuki berada di penampungan pengap itu selama seminggu. Saat itulah pertama kalinya dia tidur bersama dengan orang asing. Yah, meski dia hampir tidak tidur sama sekali.

Entah kenapa, dia yakin bahwa mungkin dia tidak akan bisa bertemu dengan ibunya lagi. Dia juga berusaha untuk menghubungi ayahnya, seorang tentara yang saat ini sedang bertugas. Tapi dia tidak punya cara untuk menghubunginya. Semua orang di sekitarnya bernasib sama. Tidak ada cara untuk menerima kabar dari luar, bahkan dalam situasi terbaik pun.

Dan Inaho, apa yang Inaho lakukan selama ini?

Jika diingat-ingat, Yuki tidak punya ingatan tentang adiknya susah diatur. Dia selalu mendengar bayi menangis entah di suatu tempat di penampungan gelap itu. Walaupun keadaannya sedang tenang, jika ada satu yang menangis, yang lainnya pasti menyusul.

Meski begitu, Inaho tidak menangis.

Tapi bukannya Inaho tidak pernah menangis sama sekali. Dia memang kadang mengeluarkan suara seperti orang yang tidak puas akan sesuatu, tapi tidak pernah sampai meratap atau merajuk.

"Benar-benar anak yang baik ya. Begitu pengertian terhadap kakaknya." Salah satu orang dewasa berkata pada Yuki di tengah kelaparan, kehausan, dan kelelahan. Dia melihat mata Inaho yang kering, "Dia tidak terlalu susah diurus ya? Manis sekali."

Itulah yang wanita itu katakan. Dia masih muda. Dia juga pernah mengelus kepala Inaho dengan amat sangat pelan, dia tersenyum dan seolah-olah akan menangis kapan saja. Dia mencengkeram sebuah tas dengan sangat erat, seakan hidupnya sangat bergantung pada tas itu, dan di dalamnya ada maninan-mainan blok dan mobil-mobilan polisi.

Sampai saat ini, Yuki bisa menebak milik siapa tas itu...


Inaho anak yang sangat penurut bahkan setelah mereka pindah ke penampungan lain, gedung olahraga bekas SD yang hampir dihancurkan. Bahkan, di antara orang-orang yang tinggal dengan mereka di sana, tidak ada yang menyadari bahwa ada balita bersama mereka.

Bukannya Inaho tidak pernah menangis. Terkadang dia menangis di malam hari seperti anak lain. Tapi tetap saja, menurut Yuki, Inaho berada di dunia yang berbeda dengan balita-balita lain yang terus-menerus menangis. Tapi berkat itu, Yuki tidak perlu keluar tempat penampungan tengah malam untuk menenangkan adiknya.

Sekali, hanya sekali saja, Inaho pernah benar-benar menangis seperti bayi.

Sehari sebelum Yuki dan Inaho dipindahkan ke "Rumah" bersama dengan beberapa anak lain, sebuah dokumen diantar untuk Yuki.

Yuki, yang masih anak-anak, tidak tahu bahwa secarik kertas bisa mengubah hidupnya sebesar itu. Dia tidak mungkin tahu tentang itu.

Yang ditulis di atas kertas yang tipis dan halus yang diberikan oleh pihak sekolah adalah: "Negara telah mengakui bahwa Kaizuka Yuki dan Kaizuka Inaho telah menjadi yatim-piatu akibat perang."

Pada dasarnya, surat itu memberi tahu Yuki dan Inaho bahwa kematian orang tua mereka telah dikonfirmasi.

Mereka sudah tiada sekarang, ibu mereka yang baik hati dan ayah mereka yang ceria.

Saat itulah, Inaho menangis kencang untuk pertama kalinya.

Saat Yuki masih terlalu shock, Inaho yang seharusnya belum mengerti apa-apa tiba-tiba menjadi merah dan mengamuk hebat di pelukan kakaknya. 


Sejak hari itu, keluarga yang tersisa bagi kedua saudara kandung itu hanyalah satu sama lain.

No comments:

Post a Comment