Thursday, June 29, 2017

Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past] - Chapter 3 part 1

English here
I translated from Eng ver bcus my Japanese is not A++ lol
translator: christa
tolong sertakan link ke laman ini jika ingin repost. thankyou.

Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past]
Bab 3 - A Den of Angel Wings (Sarang Sayap Malaikat)
bagian 1



Saat Yuki membuka matanya, mereka sudah sampai di pantai.


"Waaah! Dekat sekali!" Itu yang pertama kali dia katakan saat turun dari kereta.

Dia bisa melihat laut dari peron kereta. Pemandangannya cantik dan cerah, kau bisa melihat pasir pantai putih tidak sampai 1 meter dari pagar pengaman di bagian luar stasiun.

"Sepertinya stasiun ini dibangun setelah perang. Lihat, penunjuk jalannya ada di sana." Inaho menunjuk ke arah dinding di ujung peron.

Apa ada penjelasan "Sejarah Dibangun" yang tertulis di sana? Di sana ditunjukkan kronologi pembuatan stasiun ini, juga alasan mengapa dibangun begitu dekat dengan pantai.

Karena banyak karat dimana-mana, rasanya tempat itu jadi agak melankolis. Tapi apa karena angin pantainya ya?

Entah kenapa, Yuki mecoba menelusuri karat di papan itu dengan tangannya. Kasar dan rapuh. 

Karena tangannya jadi merah karena itu, dia kembali memegang tangan Inaho dan meninggalkan stasiun.



Angin laut di musim semi jauh lebih dingin dari pada yang Yuki pikirkan.

Aroma pantai tercium di sepanjang pesisirnya. Bau ikan, dan bau kehidupan.

"Jadi, pantai itu memang bau ikan."

"Huh?" Yuki bingung dengan kalimat adiknya. "Nao-kun, apa ini pertama kalinya kau ke pantai?"

"Ya."

"Apa kau tidak ke pantai waktu wisata sekolah? Untuk pelajaran outdoor atau apa...?"

"Tidak. Waktu itu aku pergi ke pabrik, jauh dari laut juga."

"Oh... Kalau begitu ini pengalaman pertamamu, ya."

Kalau begini, apa mungkin dia bisa meninggalkan sedikit kesan pada adiknya, ya. Dia ragu apa sesuatu yang sederhana seperti ini bisa membuatnya terkesan.

Atau bahkan apa dia menyadari perasaan kakaknya atau tidak.

"Nanti sepatumu kemasukan pasir, lho."

Inaho, yang baru saja melepas sepatunya untuk mengeluarkan pasir di dalamnya, kelihatan jauh lebih riang dan polos dari biasanya. Tapi pada saat yang sama, sesuatu terbersit di pikiran Yuki, apa dia melihat sesuatu yang selama ini ingin dia lihat?

Nafas Yuki memberikan sedikit kehangatan pada tangannya yang dingin.


Ada perbedaan yang kentara antara pemanas ruang dan di kereta dan angin dingin di laut.

Yuki berdiri di depan mesin penjual otomatis yang anehnya terlihat baru di depan stasiun dan memilih 2 sup jagung tanpa ragu.

Plong. Suara kaleng jatuh agak membuatnya senang.

Pada saat yang sama, ada sedikit rasa nostalgia. Mungkin karena hampir semua mesin penjual otomatis di jalan umum dihancurkan segera setelah perang untuk menghemat energi dan mencegah kriminalitas.

Bahkan di negara yang agak tertib seperti ini, penduduknya tidak bisa membiarkan 'harta karun' yang tidak dijaga di hari-hari setelah perang.

Hanya karena Heaven's Fall, dunia menjadi kacau.

Ada satu hal yang disyukuri Yuki karena dia masih anak-anak. Karena umur mereka, dia dan Inaho mendapat pertolongan dari negara.

Setiap hari, televisi selalu menayangkan berita yang sama: Orang-orang dewasa yang kelaparan, kehilangan tujuan hidup, atau berita tentang negara yang sedikit demi sedikit memulihkan dirinya. Tidak ada berita yang kontradiktif dari itu.


"Ini untukmu, Nao-kun. Hati-hati masih agak panas."

"Terima kasih."

Dengan hati-hati, Inaho memegang kaleng itu di antara kedua tangannya, merasakan apakah itu terlalu panas untuk dirinya.

Di depannya, Yuki membuka kalengnya dan memakan isinya. "Ini benar-benar enak... kerja bagus, sup jagung!"

"Iya."

Dia bisa merasakan bagian supnya yang kental menyebar di tubuhnya. "Kau tidak bisa makan semua jagungnya, ya."

"Mungkin bisa."

"Benarkah? Bagaimana?" Yuki membuka matanya lebar-lebar, kaget mendengar jawaban adiknya yang tidak terduga.

Dengan ujung jarinya, Inaho menunjuk ke bagian bawah kaleng. "Aku tidak cukup kuat melakukannya, tapi mungkin Yuki-nee bisa makan semua jagungnya kalau bagian bawah kalengnya kau tekuk sedikit."

"Ditekuk?"

"Mm, sederhananya, bagian yang menjorok di sini menghalangi jagungnya untuk keluar. Yah tapi tidak bisa dikembalikan seperti semula juga sih setelah ditekuk."

"Tunggu, tunggu sebentar. Bagaimana kau tahu?"

Kali ini giliran Inaho yang kaget mendengar pertanyaan kakaknya. Dia sedikit memiringkan kepalanya, seolah ingin mengatakan sesuatu meski dia sedang bingung.

"Bagaimana? Aku tidak sengaja membacanya di internet waktu di perpustakaan..."

"Kau membacanya, tapi bagaimana dengan huruf kanji atau kata sulit lainnya? Banyak yang belum kau pelajari kan?"

"Ada kamus huruf kanji di sana. Lagipula, ada banyak macam kamus dan buku referensi, jadi aku bisa lihat-lihat apapun dan kapanpun aku mau."

"Begitu..."

"Yuki-nee, kalau kau penasaran akan sesuatu kau pasti bertanya atau mencari sendiri, kan? Sama saja."

"Serius deh..."

Sama saja ya, apa memang sama?

Yuki tidak tahu.

Saat mereka masih tinggal di "Rumah", bahkan setelah mereka pindah ke apartemen, Inaho tidak pernah menunjukkan keinginan untuk membaca buku atau mencari sesuatu di depan Yuki.

"Kau cuma cari-cari tahu di perpustakaan? Tidak di rumah?"

"Tidak. Buku yang aku baca banyak yang tebal dan berat, jadi tidak bisa aku bawa pulang. Makanya aku banyak baca di perpustakaan."

"Benar juga..."

Yuki tidak tahu. Tidak tahu kalau Inaho suka ke perpustakaan.

Kalau diingat lagi, memang ada perpustakaan di dekat "Rumah". Belum lagi koleksi bukunya sudah seperti di pusat komunitas. Bahkan mungkin memang di sana ada koleksi buku spesialis yang susah dibaca untuk anak-anak.

Mengetahui tentang bagaimana adiknya menghabiskan waktunya, Yuki merasa kaget tak terkira. Bukan karena dia tidak suka pergi ke perpustakaan.

Tapi karena ternyata selama ini dia sama sekali tidak mengerti adiknya.

"...Yuki-nee tidak minum? Nanti dingin lho."

"Eh? Oh, iya. Aku minum kok."

Dia menekuk kalengnya sedikit seperti yang Inaho katakan. Saat kalengnya dimiringkan sedikit, dia kaget ternyata banyak jagung yang keluar dan memenuhi mulutnya. Tanpa sadar dia menelan semuanya dalam sekali teguk.

"Wadu- Wow!"

"Iya, kan?"

"Harusnya mereka bikin kalengnya ditekuk saja dari awal kalau tahu begini. Ah, Nao-kun, sini kalengmu."

"Terima kasih"

Inaho memegangi kalengnya dengan kedua tangannya saat Yuki menekuknya. Saat si kaleng mengeluarkan suara hiss padahal tidak ada suara sama sekali saat Yuki menekuk kalengnya sebelumnya, dia tertawa lebar.

Tentu saja, adiknya di sebelahnya tidak tertawa sama sekali.

No comments:

Post a Comment