Tuesday, June 27, 2017

Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past] - Chapter 2 part 2

English here
I translated from Eng ver bcus my Japanese is not A++ lol
translator: christa
tolong sertakan link ke laman ini jika ingin repost. thankyou.

Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past]
Bab 2 - Spring Picnic (Piknik Musim Semi)
bagian 2



Kalau diingat-dingat, sudah 10 tahun sejak pertama kali Yuki ke pantai.

Dia duduk di dalam kereta dan melihat pemandangan di luar jendela dari balik bahunya.

Sebelum Heaven's Fall, saat dunia masih memiliki sedikit perdamaian, dia sudah pergi ke laut dan berenang di sana dengan orang tuanya. Itulah satu-satunya kenangan Yuki tentang liburan bersama keluarga.

Setiap kali kereta berguncang, bahu Inaho yang kecil ikut berguncang di sebelahnya.

Yuki melihat adiknya, yang duduk santai sambil menggenggam botol minumnya. "Waktu itu aku lebih muda darinya." Dia berkata pelan.


'Benar. Aku bahkan lebih muda darinya saat itu.'

'Inaho bahkan belum lahir. Saat itu umurku 4 tahun.'


Saat itu dia masih kecil, sangat kecil sampai kakinya belum sampai ke dasar kereta ketika dia duduk.

Memakai sandal oranye favoritnya dan baju terusan dengan desain kembang sepatu yang dibuatkan oleh ibunya, dia dalam perjalanan menuju pantai, sesuatu yang sudah dia tunggu sejak lama. Kaos polo ayahnya berwarna cerah, memantulkan sinar matahari yang menembus jendela.

Saat dia ingin sekali melihat keluar, ibunya berkata, "Lepas dulu sandalmu jika kau ingin berdiri di tempat duduk."

Dia tidak mau melepaskan sandalnya, tapi dia juga ingin melihat keluar jendela. Dia melihat ayahnya di sebelahnya, berharap semoga ayahnya merayu ibunya, tapi ayahnya malah tidur lelap.

Setelah saling pandang dengan ibunya dan tertawa cekikikan, dia ingat dia menaruh jari di depan bibirnya sambil berkata, "Shhh!"

Ada AC di dalam kereta dan dia merasa kakinya agak dingin. Karena tidak tahan, dia meminta ibunya untuk memakaikan cardigan berwarna oranye-lemon di bahunya.

Itu adalah memori hangat yang mewarnai pertengahan musim panas.


Setelah lama sekali mengingat-mengingat masa lalu, Yuki melihat adiknya di sebelahnya sekali lagi. Adiknya terbungkus syal woll seperti mumi, dan meskipun mungkin Inaho sendiri yang membuatnya seperti itu, entah kenapa jadi agak kasihan melihatnya.

Karena udara musim semi masih agak dingin, pemanas ruangan di kereta dinyalakan. Meski jadinya sedikit pengap.

"Gampang ketiduran ya kalau hangat begini." Yuki merasa kasihan pada adiknya, jadi dia membetulkan syalnya. Inaho sedang melihat keluar jendela saat Yuki melakukannya. "Tidur saja, Nao-kun. Aku akan membangunkanmu saat sudah sampai."

"Aku tidak apa-apa. Bukannya Yuki-nee yang mengantuk? Aku biasa bangun jam 7."

"Tapi aku gaduh di dapur tadi, kau bukannya jadi bangun lebih awal?"

"Apa kau tadi sedang membuat sesuatu? Kita sarapan roti bakar. Tidak perlu bangun sepagi itu kalau hanya buat roti bakar."

"Aku buat bekal makan siang."

"Bekal makan siang?"

"Yap. Untuk dimakan di pantai."

"Kenapa?"

"Karena,"

'Karena itu yang ibu lakukan dulu,' Yuki ingin melanjutkannya, tapi kata-katanya tersendat di tenggorokannya.

Dia tidak bisa mengatakannya. Inaho tidak pernah tau orang tuanya. Dia tidak bisa berhenti berpikir bahwa dia telah merebut orang tuanya dari adiknya.

"Isinya apa?" Tatapan Inaho tertuju pada tas punggung yang ada di pangkuan kakaknya.

"Omelet dan nasi kepal. Sebenarnya, aku menambahkan sesuatu lagi..."

Untuk memasak sesuatu yang tidak familiar denganmu sangat memakan waktu. Tahu-tahu sudah harus mengejar jadwal kereta. Dia tidak sempat memasukkan tomat ceri dan sosis yang sudah sengaja dibelinya.

"Memasak memang tidak mudah ya."

Sejak pindah, mereka sarapan roti bakar, mi untuk makan siang (atau sesuatu yang hanya perlu dihangatkan di microwave), dan makan malam di rumah Inko hampir setiap hari.

"Yuki-nee sebenarnya belum pernah benar-benar masak. Kau kan hanya merebus sesuatu atau menghangatkannya di microwave."

"Merebus itu juga memasak! Kan pakai api!"

Dia bukannya membela diri, tapi memang itu yang dia percayai sepenuh hati.

"...Tapi bumbu yang kau pakai cuma saus mi."

"Apa? Kau bosan mi?"

"Tidak juga. Aku cuma bilang kau selalu pakai rasa yang sama setiap hari."

"Yaaaah, kalau masak mi kan kau memang harus pakai sausnya."

"Ya. Kalau harus bilang, saus mi-nya lah yang bikin aku bosan."

"...Haruskah kita ganti merk?"

"..."

Keheningan Inaho mungkin tidak berarti bahwa tebakan Yuki benar.


Yuki teringat saat pertama kali dia membuat omelet. Jelas sekali hasilnya sangat tidak menggugah selera, dia sangat yakin akan hal itu. Belum lagi, dia tidak ingat memasukkan bumbu apapun padahal seharusnya dia buat omelet. Dia tidak tahu bumbu apa saja dan seberapa banyak yang harus dipakai supaya rasanya pas, makanya dia terpaksa menaburkan garamnya setelah telurnya digoreng.

Jadi sebenarnya, tidak, bahkan tidak se'benar' itu juga, telur-telur dadar itu bukan omelet. Mereka cuma telur dadar yang ditaburi garam. Tampilannya saja tidak bagus, bagian 'dadar'nya lah yang justru menghancurkan semuanya.

Telur dadar di "Rumah" punya rasa manis. Tentu saja itu sangat enak, tapi Yuki ingin omelet. Omelet itu lembut dan halus, dan ketika kau mengunyahnya, rasanya akan menyebar di seluruh mulutmu.

Dari semua masakan ibunya, yang paling dia ingat adalah omelet yang dia makan di pantai berpasir. Itu omelet paling enak sedunia.

'Aku yakin sekali aku pasti bisa mengecap rasa itu lagi.'

Saat dia membuat bekal pagi ini, dia menyadarinya. Tidak, mungkin lebih tepat kalau dia memang sudah tahu sejak awal.

Entah apa alasannya, dia tidak punya bakat memasak. Sama sekali tidak ada.

"Aku ingin kau merasakannya juga, Nao-kun..."

"Hm?"

"Mmm, bukan apa-apa."


Pemandangan di luar jendela perlahan berubah menjadi pinggiran kota. Langit berawannya putih sejauh mata memandang, tidak ada keceriaan musim semi, tapi tidak sesuram itu juga. 

Sangat berkebalikan dengan hari itu, langitnya begitu biru sampai bisa membuatmu lupa diri.

Dia ingat bagaimana ibunya mengoleskan banyak tabir surya ke tubuh mungil Yuki sampai dia jadi pucat. Saat dia tidak pernah bisa menikmati sensasi aneh disapu air laut dengan tabir surya masih menempel di tubuhnya, dia oke saja dengan aroma kelapa dari si tabir suryanya. Kadang dia menaruh kedua tangannya di sekitar hidungnya supaya bisa membaui aromanya.

Kenangan sederhana itulah yang menjadi penyemangat seorang Yuki yang yatim-piatu. 'Meski aku kehilangan segalanya, aku masih akan mempunyai kenangan itu...' Itulah yang selalu dia percayai.

Tapi, bagaimana dengan Inaho? Apa yang adik laki-lakinya punya?

Mereka berdua yatim-piatu karena perang. Yang mereka punya hanyalah nama dan tubuh mereka. Selain itu, tidak ada.

Memang Inaho sepertinya tidak punya emosi sama sekali, meski Yuki tidak yakin apa itu hanya luarnya, atau hatinya juga. Karena memang dia tidak punya apa-apa untuk hatinya bersandar.


Dan piknik di pantai yang direncanakan Yuki, mungkin memang agak sedikit sederhana.

Tetap saja, dia ingin memberikan sesuatu yang bisa dikenang oleh adiknya. Sebuah kenangan miliknya sendiri, tidak peduli meski itu hal yang sepele.


"Yuki-nee, kau ketiduran?"

Sesuatu menggelitik pipinya, mungkin rambut Inaho.

Meski dia bilang dia tidak akan bersandar pada adiknya, tapi sekarang dia malah benar-benar hampir tertidur di atasnya. "Tidak, aku tidak tidur kok. Sungguh..."

"Tidurlah kalau kau mau."

"Mmm... Maafkan aku."

"...Tidak perlu minta maaf."

Gabungan sinar matahari yang hangat, pemanas ruangan kereta, dan badan hangat dari seorang anak kecil di sebelahnya lebih dari cukup untuk mengundang rasa kantuknya. "Nao-kun..."

"Ya?"

"Maaf..."

"Kau tidak perlu minta maaf."

"Aku minta maaf..."

Dengan lembut, Inaho membenarkan posisi kakaknya supaya dia tidak jatuh saat kereta berguncang.

"...Aku yang seharusnya minta maaf." Inaho berkata pelan.

No comments:

Post a Comment