I translated from Eng ver bcus my Japanese is not A++ lol
translator: christa
tolong sertakan link ke laman ini jika ingin repost. thankyou.
Aldnoah.Zero EXTRA EPISODE 02 [Inaho's Past]
Bab 2 - Spring Picnic (Piknik Musim Semi)
bagian 1
"Nao-kun, sudah siapkan botol minum?"
"Sudah."
"Syal? Aku yakin pasti di luar masih dingin."
"Oke."
"Kalau sarung tangan?"
"Tidak perlu."
"Bawa saja, untuk jaga-jaga."
"Oke... Ngomong-ngomong, Yuki-nee masih lama di toiletnya?"
Yuki buru-buru membuka pintu kamar mandi dan menjulurkan kepalanya ke lorong. "Aku tadi bukan di toilet, tapi cuci muka! Sekarang lagi gosok gigi." Dia bersikeras sambil menggosok giginya dengan cepat. Dia tidak tahan kalau Inaho punya pikiran dia sembelit di kamar mandi selama 15 menit.
Di apartemen mereka tinggal, kamar mandi dan toiletnya ada di dalam satu ruangan. Waktu pertama kali melihatnya Yuki berpikir, 'Wow, mereka benar-benar pintar dalam menghemat ruang.' Tapi ketika ada yang menggunakannya, maka yang lain tidak bisa pakai toiletnya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa tata letaknya benar-benar tidak praktis untuk dihuni dua orang.
"Kupikir kau sakit perut." Inaho berkata ketika kakaknya menginggalkan kamar mandi.
"Hei!" Yuki berteriak ke adiknya, yang berbicara tanpa rasa malu atau apapun itu. "Kau tidak bisa bicara begitu pada anak perempuan!"
Berdiri di depan wastafel di antara kamar mandi dan toilet, Inaho melirik sambil mengeluarkan pasta gigi ke sikat giginya. "Kenapa?"
Setiap hari, Inaho pakai pasta gigi dengan bau mint yang kuat, sama sekali bukan selera anak kecil, belum lagi rasanya semacam pedas dan panas. Dia pakai banyak sekali sampai Yuki pernah satu kali menegurnya.
Pasta gigi yang dibeli Yuki di pasar murah di depan stasiun ternyata sangat pedas sampai hidung dan lidahnya tidak kuat. Waktu itu dia terlalu banyak menuangkan di sikat giginya sampai dia menangis saking tidak tahannya.
Dan Inaho dengan acuh tak acuh menggunakannya setiap hari. Mungkin dia suka.
Yuki bertanya-tanya apa adiknya benar-benar masih kecil. Dia benar-benar seperti miniatur orang dewasa yang berpura-pura menjadi anak berusia 8 tahun. Kadang, Yuki benar-benar memikirkan tentang itu.
"Kenapa tidak boleh? Semua orang pakai toilet."
"...Iya sih, tapi kalau tidak boleh ya tidak boleh. Kalau kau berkata seperti itu, nanti tidak ada gadis yang menyukaimu, lho."
"Aku tidak butuh mereka untuk menyukaiku."
Awalnya, Yuki tercengang mendengar jawaban adiknya yang sangat cuek, tapi tiba-tiba dia merasa lega.
Meski perilakunya sangat dewasa, hal-hal seperti ini yang membuatnya terlihat seperti anak 8 tahun. 'Yaah, ternyata dia memang masih kecil.' Dia masih belum punya ketertarikan dengan lawan jenis dan tidak membedakan gender. Dia anak yang polos.
"Kalau kau berpikir seperi itu, tunggu saja nanti kalau sudah besar." Tanpa sadar, Yuki tersenyum lebar.
Inaho selalu menang dari Yuki, tapi kali ini saja keadaan berbalik. Waktunya menunjukkan pada Inaho kehormatan dari seorang yang lebih tua. Tidak hanya lebih tua, tapi juga sebagai kakak.
"Anak laki-laki itu, pasti nanti akan ada saat ketika perhatian anak perempuan adalah segalanya. Anak laki-laki yang agak besar di "Rumah" semuanya seperti itu, kan? Setiap hari Valentine mereka akan bertaruh siapa yang paling banyak dapat coklat." Yuki berkata dengan sombong, dengan penuh kebanggaan. 'Hehe.'
Si adik melihat kakaknya dengan tatapan kosong yang biasanya.
"Tidak ada gunanya kalau jadi terlalu terkenal. Daripada disukai semua orang, lebih penting untuk disukai oleh orang yang kau sayangi."
"...yah, kupikir juga begitu sih."
Kalah. Telak.
Lalu Yuki memberi handuk pada Inaho yang baru saja membersihkan mulutnya. Inaho memajukan bibirnya dengan kecut, "Duh..."
Inaho berjalan melewati kakaknya dengan ekspresi yang biasa, tidak peduli dengan kekalahan kakaknya sama sekali. Setiap kali kakaknya kalah dalam perang kata-kata, muka cemberutnya hampir selalu kelihatan.
"Sial..."
Merasa frustasi, dia jadi semakin cemberut. Sebagai pelampiasan, dia menyambar syal yang dipegang Inaho dan memakaikannya ke leher Inaho dengan ogah-ogahan. Dari mulut Inaho yang terbalut syal, meski agak tercekik, terdengar sedikit gumaman.
Yuki menarik sedikit syal Inaho agak tidak menutupi mulutnya. Sedikit terengal, nafas Inaho bau mint.
"Kau tahu kita akan naik kereta ke pantai, kan?" Dia bertanya pada Inaho. Inaho mengangguk. "Kita akan pinkik di pantai."
"Apa yang akan kita lakukan di sana? bukankah ini masih terlalu dingin untuk berenang?"
"Kita akan melihat burung"
"Burung?"
"Yap. Kalau kau pergi ke pantai berpasir, kau bisa lihat burung-burung yang terbang di atas laut."
Yuki memasukkan sesuatu seperti parka tebal supaya pas digunakan di cuaca yang agak dingin ke dalam tas punggungnya dan bersiap-siap di dekat pintu keluar. Angin di pantai mungkin masih dingin. Daripada sarung tangan rajut, dia memasukkan sarung tangan katun ke sakunya. Harganya 300 yen (sekitar 35.000 rupiah) untuk 5 pasang.
Bukannya dia tidak punya sarung tangan, tapi akan makan waktu untuk mencari di antara sekian kardus yang belum dibuka sejak saat pindahan.
"Kota ini punya pantai, tapi tidak ada pasirnya. Makanya kita akan naik kereta ke tempat yang ada pantai berpasirnya. Pokoknya harus yang berpasir."
"Kenapa?"
'Kenapa, ya...' Yuki berpikir sejenak, dan dia menghela nafas.
"Karena aku suka, mungkin." Dia bergumam sedih.

No comments:
Post a Comment