Friday, July 31, 2015

Kampung Norak dan Aku yang Norak

Sebelumnya, aku mau ngucapin Selamat Lebaran buat yang merayakan ya! Mohon maaf lahir dan batin dan semoga kita semua masih diberi keberkahan oleh-Nya, Amin. Kayak kebanyakan orang Indonesia yang pulang kampung atau mudik waktu lebaran, aku sekeluarga juga pulang kampung minggu kemarin. Seminggu di kampung halaman bikin aku sadar banyak hal, tentang aku dan tentang kehidupan. Yap, pergi ke tempat lain terus ninggalin rutinitas sejenak emang selalu bisa buka pikiran kita kembali. And here is my story, dari sebuah kampung yang norak buatku, Ambunten, Madura.

Aku selalu suka sama perjalanan jauh, aku seneng memperhatikan pinggir jalan dari dalam mobil, memperhatikan orang-orang, rumah-rumah, jalan-jalan, pohon-pohon. Kalau lewat tol lebih seneng lagi, meski nggak bisa lihat rumah dan jalannya lurus aja, di pinggiran jalan tol biasanya sawah atau tanah lapang yang ijo-ijo. Belum lagi mobilnya pasti ngebut bikin anginnya lebih semriwing hehe. Tahun ini aku berangkat dari Malang sore, jadi sempat lihat senja sama matahari terbenam di jalan, yang mana itu bagus banget dan nggak bisa setiap hari aku lihat.

Dulu waktu SD selalu kesini tiap lebaran, tapi sejak semua nenek meninggal jadi jarang-jarang. Tahun ini kebetulan ada kesempatan jadinya kesana, dan sepertinya meski aku udah berubah banget sejak terakhir kali aku kesini sekitar 6 tahun yang lalu, tempat ini nggak berubah. Suasana yang panas dan kering, debu pasir yang berhamburan setiap saat, mobil dan motor yang ugal-ugalan, juga orang-orangnya yang kalo ngomong kayak orang mau tengkar hahaha.


Jujur aja aku selalu dongkol kalau kesini, selain karena nggak punya temen, aku nggak bisa bahasa Madura. Meski bapakku orang Madura asli beliau nggak pernah ngajarin aku jadi ya sudahlah. Karena masalah bahasa juga aku jadi takut kemana-mana, kalo nyasar mampus lah aku. Mau muter-muter cari temen juga males jadinya. Beli mie instan aja susah karena sedikit orang sana yang bisa bahasa Indonesia. Kalau aku ngomong bahasa Indonesia, mereka balesnya pakai bahasa Madura dengan logat Madura yang nyeremin. Selama apapun aku tinggal di Madura sampai sekarang aku belum terbiasa sama logatnya, kesannya kayak marah gitu sama aku. Nggak woles dan nggak ada koma-nya sama sekali. Kalau diajak ngomong orang sana pakai bahasa Madura, aku senyum lebar aja deh.

Terus, anak yang sebaya sama aku itu langka, seenggaknya masih 20 lah itu kayaknya nggak ada. Kalo tua ya tua banget, kalo muda ya paling banter anak SD. Palingan cuma 1 2 itupun rumahnya jauh banget. Jelas, anak SD ngomongnya ya bahasa Madura, tambah nggak nyambung. Masih mending (pake banget) kalau ada adek bayi yang belum bisa ngomong hahahaha. Aku yang biasanya banyak omong di Malang, jadi diem banget disana dan lebih banyak mikir, mikirin nasib dan gimana lagi aku bakal ngabisin waktu.

Belum lagi orang-orang disana, meski nggak semuanya, kalau lihat aku kayak lihat orang dari Venus. Aneh gitu tatapannya, emang aku aneh apa? Yah kalau sekarang sih wajar ya karena aku masih jalan masik pakai kruk, tapi dulu-dulu sebelum kecelakaan juga sama aja tatapannya. Dan setiap aku senyumin mereka eh mereka senyum balik terus langsung pergi dengan muka 'gausa ngomong sama gue', nah loh. Kalo ngajak ngomong uda kayak mau ngajak tengkar, sekalinya diajak ngomong kabur. Aku kudu piye?

Pas hari lebaran tiba, aku jauh lebih banyak diem dan mikir. Lebih banyak nyinyir dalam hati, 'ada ya tempat yang gini-gini amat'. Yap, lebaran disana tuh aku bukannya nambah pahala tapi nambah dosa karena banyak nyinyirin orang sana LOL. Yang paling aku inget kalau lebaran itu ibu-ibu dan anak-anak SD disana pakai bajunya norak-norak. Baju warna cerah dengan motif yang nggak kalah cerah, ditambah make up menor yang menurut aku sih nggak banget. Ada itu anak kecil yang kalo dilihat dari gedenya sih kayaknya masih SD tapi kerudungnya udah model hijaber dan jarum pentulnya itu kelihatan banyak banget. Seriously?

Tapi yang seru di Madura itu kuenya enak-enak. Maklum bikinan orang tua pasti rasanya jauh lebih enak ketimbang bikin sendiri atau beli di toko. Mana kuenya besar-besar lagi. Yap, kamu nggak akan lihat kue kastengel atau nastar yang ukurannya pas sekali lahap, karena kayaknya emang udah kebiasaannya orang sana kalo bikin kue ukurannya besar-besar. Puas gitu makannya. Oh ya ngomongin makanan, kebetulan budheku punya usaha bikin kerupuk udang, dan kerupuknya ya oversized banget kalau dibandingin ama yang dijual-jual di pasaran hahaha XD

Kalau lagi nggak berkunjung ke rumah saudara atau nggak ada kerjaan di rumah dan bosen sama nonton film aku biasanya jalan-jalan di pantai. Rumah mbah deket banget sama pantai. Yap tahun ini juga aku ke pantai meski pakai kruk. Di pantai ngapain? Ya duduk-duduk aja, nikmatin angin sama suara ombak. Kalau dulu sih selalu cari kerang terus direbus dimakan bareng sambel kecap di rumah mbah. Sampe budheku bilang, "Kayak pemulung aja, makan kerang kecil-kecil gitu". Yah emang kecil sih kerangnya, tapi banyak jadi ya sudahlah hahaha.

Akhirnya pun setelah seminggu disana aku pulang. Jam 12 malam mobilku berangkat, yap dengan ngantuk-ngantuk, tapi yang menyenangkan dari kaca mobil aku bisa lihat ke langit dan disana banyak bintangnya. Dari sana aku menyadari satu hal, meski aku nganggep kampung ini norak , ternyata aku jauh lebih norak.

Aku yang girang sendiri cuma karena bisa kepantai tiap hari, aku yang girang sendiri cuma karena bisa makan kerang tangkapan sendiri meski kerangnya kcil-kecil, aku yang girang sendiri cuma karena bisa lihat senja dan matahari tenggelam, aku yang girang sendiri cuma karena ukuran kue sama kerupuk di Madura besar-besar.

Lebih norak lagi, aku yang nggak bisa menangkap kebaikan dari orang-orang disana. Aku bukan orang sana, jadi wajarlah kalau mereka melihatku dengan aneh, dengan penasaran. It just the same with me when I saw anoter stranger, that might has a slight difference in his/her performance. Di Malang, orang-orang pasti ngelihatin kalau aku jalan pakai kruk, mereka, orang Madura, juga sama. Logat asli mereka, itu salah satu tanda kekayaan Indonesia, logatku mungkin juga terdengar aneh di telinga mereka.

Saat pulang, aku dibawain banyak sekali oleh-oleh sampai-sampai mobilku nggak muat. Saat berkunjung, mereka selalu nawarin makanan bahkan sampai disuruh bungkus bawa pulang. Yap, mereka orang lokal yang masih menjunjung tinggi moral dan sopan santun, masih kental dengan kehidupan beragama, dan memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, yang udah mulai langka kamu temukan di kota.

Ya, aku sungguh norak, yang menjudge mereka sebagai orang norak dan kampung mereka sebagai kampung norak.

sayadipong 17:09

No comments:

Post a Comment