Lama nggak nulis disini ya.. *kayaknya setiap nulis disini awalnya selalu begitu sih hahaha -_-
Yap, judulnya berkabung, karna aku lagi berkabung sekarang...
Hampir 2 dekade ini, mungkin aku masih belum bener-bener tau banyak hal, salah satunya tentang kematian. Selama ini kalau ada yang mati, yang aku lakukan cuma takziah bareng temen-temen, ngaji, sholat ghaib, udah, namun ternyata lebih dari itu, aku samasekali nggak ngerti esensi dari takziah.. Yah, dibilang esensi juga itu istilah yang aku buat sendiri, kayak, hari ini aku nemukan sesuatu yang baru, bahwa ternyata kematian itu sulit, bukan, mati itu gampang, namun melepas kematian itu yang sulit. Di film, di anime, atau drama, kalau ada yang mati, nangis, udah. Gampang banget kan ngomong mati! mati! Ganti episode udah cerah lagi. Kehidupan nyata jauh lebih rumit dari itu.
Ya, aku memang belum pernah merasa benar-benar "kehilangan" seseorang sebelumnya. Kematian anggota keluargaku yang aku ingat cuma nenekku waktu aku masih kelas 1 SD, yang lainnya aku nggak begitu kenal mereka jadi ya aku nggak sedih-sedih amat, dan melihat orang-orang yang ditinggalkan saat itu, aku, nggak tergerak samasekali. Aku cuma mikir, "kapan ini acara selesai ya? aku pengen pulang.." nggak berperasaan? mungkin.
Tapi hari ini berbeda..
Subuh, anak-anak dapet kabar kalo salah satu ayah teman kami, Zaki, udah nggak ada. Aku, seperti biasa cuma 'oh.. Innalillahi'.. Zaki rumahnya jauh, sekitar 4-5 jam dari rumahku. Biar begitu, anak-anak tetep mau kesana meski bingung dan ribet awalnya cari mobil carteran, yang pada akhirnya aku ikutan juga -_- well, its not like i really want to cheer her up, i dont know how to do that actually, beside, I still dont understand this kind of sadness and, maybe cause of she is my bestfriend...
Sampai disana, yang kupikirkan cuma 1, panas! Beneran deh panas banget nggak tahan dan bajuku lengket -_-")) Masuk ke rumahnya, aku merasakan suasana yang nggak asing.. Ya, suasana berkabung. Kesedihan yang lekat, yang nggak bisa diomongin, tapi aku tau. Semua yang ada disana sedang bersedih, meski sebagian besar dari mereka tersenyum. Kami disambut, diberi makanan dan minuman, mengobrol, tapi Zaki belum keluar dari kamarnya. Kupikir aku hanya akan menganggapnya enteng seperti takziah-takziahku sebelumnya, tapi ternyata nggak..
Zaki keluar dengan mata sembab dan mukanya merah, mungkin menangis semalaman. Aku mulai bertanya dalam hati, "seberat itukah?" dan semua seolah terjawab waktu aku memeluknya, "ya, lebih dari yang kau bayangkan" dan dia nangis lagi, di depan kami semua. Untuk pertamakalinya, aku menangis di acara seperti ini.
Oh..
Begitu..
Kurang lebih begitu,, ya?
Dan pikiranku kemana-mana.
Suatu saat nanti, aku pasti mengalami ini. Mungkin lebih, karna anggota keluargaku lebih banyak dari Zaki. Untuk pertamakalinya, aku benar-benar takut kehilangan keluargaku. Pertamakalinya, aku memandang punggung bapakku dan berpikir bahwa beliau benar-benar gagah dan keren, nggak ada capeknya, dan luar biasa bijaksana.. Pertamakalinya, aku pengen liburan sekeluarga, foto bareng 7 orang dalam 1 frame, dan menyimpan fotonya di dompetku.. Pertamakalinya, aku merasa keluargaku benar-benar penting, lebih dari apapun, Bapak, Ibu, Mas Ulyan, Mas Kiki, Mimi, Dani... Aku sayang kalian.
Hal-hal kecil kayak rebutan koneksi, rebutan jamur goreng, rebutan kamar mandi, ato saling lempar bagian bersih-bersih rumah, hal-hal kecil begitu kali ya, yang mungkin bakal aku rindukan. Dan sekarang aku merasa benar-benar tua, entahlah, aku merasa kehangatan seperti bakal nggak lama lagi aku rasakan. Aku sama semua saudaraku yang dari TK sampe kuliah nggak pernah pisah, nanti gimana rasanya ya nggak ada mereka di rumah, gimana rasanya ya punya kamar baru, rumah baru.. Akankah sepi..?
Apapun itu,
Zaki, yang tabah ya, semua pasti ada hikmahnya, pasti dengan kejadian ini kamu bisa jadi orang yang lebih dewasa dan bijaksana, sukses selalu, dan terimakasih juga.. Mungkin kamu orang pertama yang ngajarin aku tentang gimana rasanya kehilangan seseorang, kehilangan yang bener-bener kehilangan sampe kita mikir kalo ini cuma mimpi buruk.. yah nggak elok juga sih terimakasih masalah ginian -_- tapi tetep, aku bener-bener terimakasih buat pelajaran yang aku dapet hari ini. Dan buat Ayahnya Zaki disana, semoga menjadi ahli surga ya, kau luar biasa sudah membesarkan anak perempuan yang cantik dan baik, dia pasti baik-baik saja :)
sayadipong 20:42
No comments:
Post a Comment